Rabu, 11 November 2015

Teori Belajar dan Tingkah Laku


  • E.L Thorndike : The Law of Effect

Teorinya dikenal sebagai connectionism (pertautan, pertalian). E.L Thorndike menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses "stamping in" (diingat), forming, hubungan antara stimulus dan respons. Thorndike berpendapat bahwa hadiah memperkuat ikatan yang ada antara stimulus dan respons.

Thorndike menyimpulkan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan atau koneksi antara stimulus dan respons dan penyelesaian masalah (problem solving) yang dapat dilakukan dengan cara trial and error (coba-coba). Faktor penting yang mempengaruhi semua belajar adalah reward atau "pernyataan kepuasan dari suatu kejadian". Kemudian Thorndike menghapuskan bagian negatif yang "mengganggu" dari hukuman law of effect (hukum pengaruh) karena dia menemukan bahwa hukuman tidak penting. Hukuman akan memperlemah ikatan dan tidak mempunyai efek apa-apa, berbeda dengan hadiah (reward).

Law of excercise (hukum latihan) adalah prinsip belajar yang kedua, yang pada umumnya dinyatakan hubungan antara S (stimulus) dan R (respons) akan mejadi semakin kuat dengan makin sering R (respons) dilaksanakan terhadap S (stimulus). Dengan latihan berkali-kali (law of use) hubungan antara S (stimulus) dan R (respons) makin kuat. Hubungan R (respons) dan S (stimulus) akan melemah bila latihan dihentikan atau bila hubungan neural (berhubungan dengan urat saraf) tidak ada. The law of effect (hukum pengaruh) mengarah pada pemberian hadiah yang kongkret. Sedangkan the law excercise mengarah pada banyaknya ulangan, praktik, dan drill untuk semua pelajaran.

  • Ivan Pavlow : Classical Conditioning
Teorinya menyatakan bahwa belajar sebagai proses unconditined stimulus (US) dan uncondtioned respons (UR) atau respons tak bersyarat.

Unconditioned stimulus (US) atau perangsang tak bersyarat atau perangsang alami, yaitu perangsang yang secara alami dapat menimbulkan respons tertentu. Perangsang bersyarat atau conditioned stimulus (CS), yaitu perangsang yang secara alami tidak dapat menimbulkan respons tertentu, tetapi melalui proses persyaratan dapat menimbulkan respons tertentu. Respons bersyarat atau unconditioned respons (UR), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang bersyarat. 

Pavlow pada umumnya nemusatkan tingkah laku terjadi bila ada stimulus khusus. Teori classical conditioning Pavlow menemukan bahwa seorang individu dapat belajar dengan memasangkan hubungan stimuli.
  • J.B. Watson : Conditioning Reflect
Watson percaya bahwa belajar adalah suatu proses dari conditioning reflect (respons) melalui pergantian dari satu stimulus kepada yang lain. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosi, ketakutan, cinta dan marah. Semua tingkah laku dikembangkan oleh pembentukan hubungan S-R (stimulus-respons) baru melalui conditioning.
Banyak sikap yang dipelajari siswa melalui classical conditioning. Mereka belajar bersikap negatif terhadap bahasa asing, karena mereka berasosiasi dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalmya ketika guru menyuruh siswa untuk menerjemahkan di muka kelas, dan siswa yang membuat kesalahan mendapat marah. Pengalaman ditanya pada hal-hal yang sulit (US-unconditioned stimulus) akan mendatangkan kecemasan (UR-unconditined respons). Siswa-siswa yang dikondisikan untuk takut pada bahasa asing mungkin mengeneralisasikan ketakutan mereka terhadap mata pelajaran lain.
  • B.F. Skinner : Operant Conditioning
Skinner memandang hadiah (reward) atau reinforcement (penguatan) sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar. Kita cenderung untuk belajar suatu respons jika segera diikuti oleh penguatan (reinforcement). Skinner memilih istilah reinforcement daripada reward karena reward diintrepretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan, sedangkan reinforcement adalah istilah yang netral. Skinner memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuen. Contoh, jika tingkah laku individu segera diikuti oleh konsekuensi menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin. Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku sering disebut operant conditioning. Konsekuen yang menyenangkan akan memperkuat tingkah laku, sedangkan konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku. 

Responsdent conditioning mengidentifikasikan dua bentuk respons dalam proses belajar yaitu responsdent conditioning dan operant conditioning.

Responsdent merupakan tingkah laku yang timbul apabila ada stimulus tertentu yang mendahuluinya. Responsdent diperoleh dengan stimuli khusus. Dalam situasi responsdent, seorang individu hanya belajar semata-mata karena mengalami keadaan pada waktu itu dengan merespons apa yang terjadi di sekitarnya. Responsdent conditioning terbentuk dengan penyampaian stimulus baru berulang-ulang dan berpasangan dengan stimulus yang biasa menimbulkan responsdent

Operant (perilaku diperkuat jika akibatnya menyenangkan - belajar giat jika mengakibatkan nilai bagus) merupakan tingkah laku yang ditimbulkan oleh organism itu sendiri. Operant conditioning dikatakan telah terbentuk bila dalam frekuensi terjadi tingkah laku operant yang bertambah atau bila timbul tingkah laku operant yang tidak tampak sebelumnya. Frekuensi terjadinya tingkah laku operant ditentukan oleh akibat tingkah laku tersebut.

Sebagai contoh, siswa-siswa di sekolah TK pada minggu pertama memperlihatkan sejumlah respons: berbicara dengan teman lain, menaruh perhatian kepada guru, berjalan-jalan di kelas, mengganggu teman lain, dan sebagainya. Ketika guru mulai me-reinforced respons tertentu dengan tersenyum ketika siswa menaruh perhatian, beberapa respons mulai sering terjadi. Dari kemungkinan respons yang dapat diberikan dalam suatu situasi, beberapa respons menjadi lebih dominan daripada respons yang lain. 

Jika disederhanakan, pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning antara lain: (1) Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcement bagi tingkah laku yang akan dibentuk. (2) Melakukan analisis untuk mengidentifikasi aspek-aspek kecil yang membentuk tingkah laku. Aspek-aspek tersebut diurut untuk menuju terbentuknya tingkah laku. (3) Dengan mempergunakan secara urut aspek-aspek itu sebagai tujuan sementara, kemudian diidentifikasikan reinforcer untuk masing-masing aspek tersebut. (4) Melakukan pembentukan tingkah laku dengan menggunakan urutan aspek-aspek yang telah disusun.

Dasar operant conditioning dalam pengajaran adalah memastikan respons terhadap stimuli. Guru berperan penting di kelas, dengan mengontrol langsung kegiatan belajar siswa. Guru yang harus pertama-tama menentukan logika penting agar menyampaikan materi pelajaran dengan langkah-langkah yang pendek dan kemudian mencoba untuk memberikan reinforcement sesegera sesudah siswa merespons. Saran kepada guru untuk selalu memperbaiki kemampuan me-reinforced, mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa setelah diperiksa dan dinilai sesegera mungkin dan menanyakannya kepada siswa secara teratur dan memuji, melihat pekerjaan siswa dan mencoba me-reinforced semua tingkah laku yang menghasilkan perkembangan sikap yang baik terhadap belajar.

Sumber : Esti W. D., Sri. 2002. Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Grasindo.

1 komentar: